Mengenal TGKH Zainuddin Abdul Majid,
Saudara Seperguruan Kiai Hasyim Kiai Ahmad Dahlan Sabtu, 29 April 2017 | 11:10
WIB, Oleh: Selamat Ginting, wartawan senior Republika Tuan Guru Kiai Haji
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ternyata belajar dari madrasah yang sama dengan
Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Madrasah ash Shaulatiyah
merupakan salah satu madrasah legendaris di Tanah Suci. Didirikan pada 1219 H
oleh seorang ulama besar imigran India, Syekh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi
al-Dahlawi. Tercatat sebagai madrasah pertama dalam dunia pendidikan di Arab
Saudi, sehingga gaungnya menggema ke seluruh dunia.
Madrasah
ini menghasilkan ulama-ulama besar dunia, termasuk dari Indonesia. Kiai Haji
Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah; dan Kiai Haji Hasyim Asy’ari, pendiri
Nahdlatul Ulama (NU), adalah jebolan madrasah tersebut. “Tuan Guru Kiai Haji
(TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (NW),
mengikuti jejak Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Kiai Haji Hasyim Asy’ari berguru di
tempat yang sama,” kata cendekiawan Muslim Azyumardi Azra dalam buku Renaisanse
Islam Asia Tenggara. TGKH Zainuddin Abdul Madjid atau dikenal juga dengan
julukan Kiai Hamzanwadi, masuk Madrasah Shaulatiyah pada 1345 H atau 1927 M.
Saat itu sebagai mudir atau direkturnya adalah Syekh Salim Rahmatullah. Ia
merupakan cucu pendiri Madrasah ash-Shaulatiyah. Karena itu, ada hubungan
historis antara Muhammadiyah, NU, dan NW di Indonesia karena basis ilmu
pendirinya sama-sama dari almamater Madrasah Shaulatiyah. Maka, apa yang
diajarkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, diajarkan pula
di sekolah-sekolah Nahdlatul Wathan.
Shaulatiyah
merupakan madrasah tradisional di tengah deru pembaruan pendidikan di Hijaz
yang dilancarkan Dinasti Utsmani. Madrasah ini didirikan Syekh Muhammad Rahmat
Allah dari Delhi, India, sehingga sering diasosiakan dengan Muslimin Anak Benua
India. Namun, nyatanya murid terbanyak justru dari Jawi (Jawa, Indonesia).
“Kampus kancah anak-anak Jawi,” kata Faisal Abd Allah al-Aqawi, dalam buku At
Ta’lim al-Ahli li al-Banin Makkah al-Mukarramah (1404/1984). Madrasah ini
berkembang pesat dan maju ketika Muhammad Zainuddin mulai menginjakkan kaki di
sekolah tersebut. Pada hari pertama, ia langsung bertemu dengan Syekh Hasan
Muhammad al- Masysyath. Inilah gurunya yang paling dekat dengannya. Ia juga
bertemu Syekh Sayyid Muhammad Amin al-Quthbi.
Para
gurunya menilai Zainuddin memiliki ketekunan tinggi dalam belajar. Beberapa
guru mengakuinya sebagai murid yang tergolong cerdas. Syekh Salim Rahmatullah
selalu mempercayakan kepadanya untuk menghadapi penilik madrasah Pemerintah
Arabi Saudi yang sering kali datang ke madrasah. Penilik madrasah adalah
penganut paham Wahabi. “Dan Zainuddin, satu-satunya murid Madrasah ash-
Shaulatiyah yang dianggap menguasai paham Wahabi dan ia selalu berhasil
menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan,” kata seorang teman
sekelasnya, Syekh Zakariyah Abdullah Bila, ulama besar di Tanah Suci Makkah.
Ketekunannya dalam belajar juga diakui Syekh Ismā’il Zain Al-Yamani. Ia mengagumi Syekh Zainuddin karena sangat cerdas dan akhlaknya mulia. Zainuddin berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu enam tahun. Padahal, lama belajar normal adalah sembilan tahun. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, kelahiran 19 April 1898, berhasil menyelesaikan studinya di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah pada 1351 H atau 1933 M, dengan predikat istimewa (mumtâz).
Predikat
istimewa disertai perlakuan yang istimewa dari Madrasah ash-Shaulatiyah.
Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khath terkenal di Makkah
saat itu, yaitu al-Khaththath asy-Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari
Direktur Madrasah ash Shaulatiyah. Kemudian, ijazah tersebut diserahterimakan
kepadanya pada 22 Dzulhijah 1353 H. Hal tersebut tidak lazim dalam tradisi
madrasah tersebut sepanjang zaman. Khusus untuk Zainuddin dicantumkan langsung
gelar yang melekat pada pemilik ijazah ini: al-Akh al-Fadhil al-Mahir al-Kamil
al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Alanfanany (Saudara yang Mulia, sang
Genius sempurna, Guru Terhormat Zainuddin Abdul Madjid).
Bahkan
sebagian guru besar Zainuddin menyebutnya sibawaihi zamaanihi (Yang tak
tertandingi). Semua nilai ijazahnya 10 untuk seluruh mata pelajaran, bahkan
dibubuhi tanda bintang dalam setiap nilainya. Mudir madrasah tersebut, saat itu
Maulana Syaikh Salim Rahmatullah, generasi ketiga dari pendiri madrasah
tersebut, punya penilaian tersendiri. “Cukup satu saja murid madrasah ini
asalkan seperti Zainuddin yang semua jawabannya menggunakan syair, termasuk
ilmu falak yang sulit sekalipun,” seperti terungkap dalam buku H Abdul Aziz
Sukarnawadi, As-Sabtu al-Fariid Fii Asaanidid as-Syeikh Ibnu Abdil Madjid,
(Demak Jawa Tengah: Maktabah; Tuuras Ulama Nusantara, 2017). Ijazahnya
ditandatangani delapan guru besar madrasah, sesuatu yang tidak lazim.
Predikatnya syahadah ma'a addarajah assyaraf alulaa atau lebih tinggi dari
summa cum laude.
Sedangkan,
Sayid Muhammad ‘Alawi ‘Abbas al-Māliki al-Makki, seorang ulama terkemuka kota
suci Makkah, mengatakan, tak ada seorang pun ahli ilmu di Tanah Suci Makkah,
baik thullāb maupun ulama yang tidak mengenal tingginya ilmu Syekh Zainuddin.
“Syekh Zainuddin seorang ulama besar, bukan hanya milik umat Islam Indonesia,
tetapi juga milik umat Islam sedunia,” seperti tertulis dalam buku H Abdul
Hayyi Nu’man dkk. Nahdlatul Wathan Organisasi Pendidikan, Sosial, dan Dakwah
Islamiyah (Selong: PD NW Lombok Timur, 1988).
Beruntung
dan berbanggalah organisasi massa Islam Nahdlatul Wathan, karena sang pendiri
merupakan ulama dengan kualitas ilmu yang sangat tinggi, syahadah ma'a
addarajah assyaraf alulaa atau lebih tinggi dari predikat summa cum laude.
Baca Juga Artikel ini >>>>>.......







